Minggu, 30 Januari 2011

Tangisan Anak

Pesan sosial berlatarkan pertengkaran dalam keluarga dan anak yang menjadi korban.
Dalam lagu yang bersyairkan bahasa jawa Indramayuan, Eddy Zaky pelantun tembang yang berjudul Tangisan Anak ini mengkisahkan seorang istri yang hanya kekurangan nafka sampai tega meninggalkan Suami dan anak yang selalu menangis kehilangan ibu.
Simak tembang ini.


Mencetak perkutut Berkualitas


Perkutu suatu burung peliharaan yang dapat dinikmati dari keindahan suara nyanyiannya. Dan dambaan setiap para hobiis untuk memiliki peliharaannya tersebut memiliki lantunan suara yang indah. Bahkan untuk mendapatkannya kadang tidak sedikit uang yang mereka keluarkan dari kocek kantongnya.

Mempunyai perkutut yang baik dan berkualitas serta siap berlaga di arena konkurs adalah dambaan sekaligus ambisi para hobiis dan para peternak perkutut. Tidak sedikit diantara mereka yang meyakini anggapan bahwa perkutut berkualitas hanya bisa diperoleh dari turunan induk juara. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Karena tidak semua perkutut juara bisa menghasilkan keturunan  yang juga siap menjadi juara. Demikian juga sebaliknya, perkutut yang tidak pernah memenangi perlombaan pun bisa menurunkan anakan yang bisa menjadi juara atau setidaknya menghasilkan lantunan suara yang indah dan merdu untuk di dengarkan


Perkutut berkualitas dan siap lomba bisa dipersiapkan sejak masih piyik atau anakan. Anakan yang dimaksud adalah keturunan perkutut yang sehat, bagus, dan tidak cacat baik tubuh maupun suaranya, meskipun bukan perkutut juara. Tentunya, setelah melalui berbagai seleksi, pemberian pakan yang baik, perkandangan yang memadai, dan perawatan atau pemeliharaan. Inti dari semuanya itu adalah dengan tujuan agar peliharaan perkutut yang kita miliki mempunyai suara yang merdu [besar dan berirama] serta mental perkutut yang stabil serta sehat.

Untuk mengahsilkan suara yang merdu dengan lantunan yang indah faktor pakan sangat dominan.
Sedangkan untuk menghasilkan mental perkutut yang mempunyai stamina prima maka perawatan, kebersihan kandang, proses pemandian juga pemberian sinar matahari [penjemuran] sangat lah diperhatikan.

Senin, 17 Mei 2010

Lamunan

 
Dalam lamunan nampak kulihat nunjauh di sana keindahan.
Ternyata
Tak selamanya kesedihan menjelma dari kesendirin.
Dan tak selamanya Keterasingan itu menjenuhkan. 
Kuyakin, bila kita selalu menikmati sekeliling, 
kan ada mutiara.

Senin, 22 Februari 2010

Pintar dan Bodoh

Setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda-beda dan menerjemahkan perjalanan hidupnya pun tak akan sama kedalam petuah-petuah kata yang bermakna. Demikian pula dengan sosok Bob Sadino yang ber-azzam untuk tidak membawa ilmu yang dimilikinya keliang kubur sebelum di ajarkan kepada anak bangsa ini.
Berikut tulisan-tulisan Beliau, semoga bermanfaat.
1. Terlalu Banyak Ide – Orang “pintar” biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang “bodoh” mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya
2. Miskin Keberanian untuk memulai – Orang “bodoh” biasanya lebih berani dibanding orang “pintar”, kenapa ? Karena orang “bodoh” sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang “pintar” telalu banyak pertimbangan.
3. Telalu Pandai Menganalisis – Sebagian besar orang “pintar” sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang “bodoh” tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.
4. Ingin Cepat Sukses – Orang “Pintar” merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkahn hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang “bodoh” merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.
5. Tidak Berani Mimpi Besar – Orang “Pintar” berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai. Orang “bodoh” tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.
6. Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi – Orang “Pintar” menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang “Bodoh” berpikir, dia pun bisa berbisnis.
7. Berpikir Negatif Sebelum Memulai – Orang “Pintar” yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang “bodoh” tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.
8. Maunya Dikerjakan Sendiri – Orang “Pintar” berpikir “aku pasti bisa mengerjakan semuanya”, sedangkan orang “bodoh” menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.
9. Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan – Orang “Pintar” menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang “bodoh” berpikir simple, “yang penting produknya terjual”.
10. Tidak Fokus – Orang “Pintar” sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang “bodoh” tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.
11. Tidak Peduli Konsumen – Orang “Pintar” sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang “bodoh” ?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.
12. Abaikan Kualitas -Orang “bodoh” kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sednagnkan orang “pintar” sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.
13. Tidak Tuntas – Orang “Pintar” dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang “bodoh” mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.
14. Tidak Tahu Pioritas – Orang “Pintar” sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang “Bodoh” ? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas
15. Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas – Banyak orang “Bodoh” yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang “Pintar” malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,
16. Menacampuradukan Keuangan – Seorang “pintar” sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.
17. Mudah Menyerah – Orang “Pintar” merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang “Bodoh” seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.
18. Melupakan Tuhan – Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jarih payah diri sendiri, tanpa campur tangan “TUHAN”. Mengingat TUHAN adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal.
19. Melupakan Keluarga – Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga
20. Berperilaku Buruk – Setelah menjadi pengusaha sukses, maka seseorang akan menganggap dirinya sebagai seorang yang mandiri. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain, karena sudah mampu berdiri diats kakinya sendiri.
Sumber ; Bob Sadino

Minggu, 14 Februari 2010

Jangan Merasa Kalah

" Bersungguh-sungguhla dengan kehinaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kemuliyaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidak berdayaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan kelemahanmu niscaya Ia menolongmu dengan kekuatan-Nya"
(Ibnu 'Athaillah)

Mungkin kita pernah merasakan dan setidaknya berpikir, bahwa betapa berat dan kerasnya  hari-hari yang dilalui dalam menjalankan hidupi ini. Saat hati kita seolah tak mampu lagi menahan beban masalah. Saat kita merasa lunglai, lemah, dan berat melangkahkan kaki, merasa tak kuat dan bingung menghadapi berbagai suasana hidup yang sulit dan berat hingga mencapai titik keputus asaan.

Itu sesungguhnya bukan dari tanda-tanda  kekalahan nasib yang pantas di sesali. Karena sesungguhnya Manusia diciptakan dalam keadaan serba lemah namun mulia dibanding dengan mahluk lain-Nya. Dengan kemuliaannya itulah sesungguhnya Allah SWT berjanji "tidak akan menimpahkan beban masalah kepasa seseorang, diatas batas kemampuan orang tersebut untuk menanggungnya. Dan itu semua tiada lain untuk menguji kadar keimanan dari hamba-Nya.

Buya Hamka pernah mengatakan "Tingkat cobaan Iman tak ubahnya kita menaiki anak tangga yang bertingkat-tingkat. Tiap anak tangga yg dinaiki datang dari bawah pukulan hebat ketubuh yang mendaki. Kalau tangannya kuat bergantung, kalau kakinya kuat berpijak dan kalau akal pikirannya tetap waspada, pukulan itu malah akan mendorong menaikannya ke anak tangga yang lebih tinggi. Tapi kalau Tangan, kaki dan pikiran kita lemah maka pukulan itu akan menjerumuskan kita ke yang lebih bawah sampai mengakibatkan sulit untuk bangkit kembali."

Dalam ungkapan lain Imam Hasan Al Basri mengatakan "Ketika badan sehat dan hati senang, semua orang mengaku beriman. Tetapi setelah datang cobaan barulah teruji benar tidaknya pengakuan itu. Orang yang keinginannya ingin cepat terkabul hari ini dan tidak sabar menunggu, itulah orang yang lemah iman"

Sadar atau tidak terkadang kita sering membandingkan yang satu dengan yang lain, namun coba renungkan " Memang ada orang pintar namun hidupnya miskin harta, sedangkan yang bodoh kaya raya, Pembela kebenaran hidup terisolir, orang kafir memiliki harta benda melimpah, sedangkan ada orang islam hidup terlunta-lunta.

Namun coba kita tengok dan tauladani peristiwa sejarah Nabi Ya'qub yang kehilangan Yusuf anak yang sangat dicintainya. Bagai mana penderitaan Nabiyullah Yusuf as sendiri ? ia tidak disukai oleh saudara-saudaranya sejak kecil. Bahkan dilempar kedasar sumur yang gelap gulita, diperdagangkan sebagai budak belian. Lalu dijebloskan kepenjara meski ia tak pernah melakukan kejahatan sedikitpun.
Lihat pula Nabiyullah Musa as, yang dilahirkan dijaman yang sangat memprihatinkan sampai-sampai dengan perasaan berat ibunya memasukan bayi tersebut kedalam peti untuk dihanyutkan di sungai Nil.

Tak beda pula dengan yang lain, Nabiyullah Ibrahim as diuji keimannannya seolah melampaui batas kemampuan manusia yaitu saat diperintahkan untuk menyembeleh anak kandungnya sendiri yang bertahun-tahun ia dambakan.

Mana yang lebih besar penderitaan kita kita dengan penderitaan Nabi Adam as ? Bersenang-senang dalam surga bersama istrinya, namun kemudian diperintahkan untuk keluar dari surga.

Sebesar apakah kesulitan kita dibanding penderitaan Nabi Nuh as, yang menyeruh pada umatnya, tapi anak dan istrinya sendiri tidak mau menjadi pengikutnya? yang sampai akhirnya karena tolakan tersebut anak dan istrinya tertelan dalam gulungan banjir.

Semuanya bukti yang patut kita tauladani dan kita yakini bahwa iman kepada Allah memang menghendaki perjuangan, pengorbanan sekaligus keteguhan hati. Dahan akan kurus, daun akan layu bila batang tak memiliki akar yang kuat, kokoh dan tak mudah goyah diterpa angin dan badai.

Mari kita mencoba untuk tak pernah kalah oleh beratnya beban hidup. Ingat, tidak semua permintaan kita pada Allah mesti harus dikabulkan. Hanya Allah lah yang lebih mengenal bathin kita dari pada kita sendiri.Teka-teki hidup ini sangat banyak. Jangan menyangka Allah lemah dalam menolong hamba-Nya.

Lalu, kapan dan bagaimana pertolongan Allah itu tiba ?
Ibnu Athaillah memberi pengarahan yang sangat berharga untuk kita pelajari.
" Bersungguh-sungguhla dengan kehinaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kemuliyaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidak berdayaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan kelemahanmu niscaya Ia menolongmu dengan kekuatan-Nya"
Pertolongan, Bantuan, dukungan kemenangan dari Allah itu pasti. "Adalah hak bagi kami menolong orang-orang yang beriman." (QS.Ar Ruum: 47)

Jika Ia berkehendak, tak ada yang dapat menghalangi turunnya pertolongan dan bantuan-Nya.  
Oleh karena itu "JANGAN PERNAH KALAH OLEH COBAAN"

Sabtu, 23 Januari 2010

ANTARA HATI DAN MATA

"Hati adalah raja. Dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik maka baik pula pasukannya".
(Ibnu Qayyim)

Mata adalah panglima hati. Hampir semua perasaan dan prilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila dibiarkan mata memandang yang dibenci dan yang dilarang, maka pemiliknya berada ditepi jurang bahaya. Meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang.
Nasihat Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin
Dalam kitab itu juga diterangkan bahwa wasiatnya mengandung makna "Agar kita tidak menganggap ringan masalah pandangan"
Semua peristiwa besar awalnya adalah dari mata. Lihatlah Api, Api yang membesar awalnya berasal dari percikan api. 
Dalam kehidupan sehari-hari, Fitnah dan ujian tak pernah berhenti . Sangat mungkin, kita kerap mendengan bahkan mengkaji masalah mata. Tapi belum tentu kita termasuk dalam kelompok orang yang bisa memelihara matanya. Padahal, seperti diungkapkan oleh Imam Ghazali, "Orang yang keliru menggunakan pandangan matanya, berati ia terancam bahaya besar karena mata adalah pintu paling luas yang bisa memberi banyak pengaruh pada hati.
 
Masih mengutit kata bijak Ibnu Gayyim "Mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan pengikut bahkan pengeksekusi dalam tiap pengambilan sikat dan tindakan".  Mata memiliki kenikmatan pandangan, Sedangkan Hati memiliki kenikmatan pencapaian. Dalam dunia nafsu keduanya adalah sekutu yang mesra.

Diceritakan dalam HR.Bukhari dan Muslim ;  Rasulullah SAW bersabda "Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula. Dan jika ia rusak, maka akan rusak pula seluruh tubuh. Segumpal darah itu adalah HATI"

Wahai hati, jika engkau dianugrahi pandagan, tentu engkau tahu rusaknya pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu., dan kebaikan mereka adalah kebaikanmu.
"Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada". (QS.Al-Hajj:46)
Perilaku Mata dan Hati adalah sikap tersembunyi yang sulit diketahui oleh orang lain. Kedipan mata apalagi kecenderungan hati, merupakan rahasia diri yang tak diketahui oleh siapapun, kecuali Allah swt.

Dalah sebuah hadis dikisahkan, pada hari kiamat ada sekelompok orang yang membawa kebaikanyang sangat banyak. bahkan Rasulallah SWT menyebutnya, kebaikan orang itu bak sebuah gunung. Tapi ternyata, Allah SWT tak memandang apa-apa terhadap prestasi kebaikannya itu. Allah menjadikan kebaikannya itu tak berbobot, seperti debu yang berterbangan dan hanya mengotori tiap rongga kaca. Tak ada artinya. Rasul mengatakan, bahwa kondisi seperti itu adalah karena mereka adalah kelompok manusia yang melakukan kebaikan ketika berada bersama manusia yang lain. Tapi tatkala dalam keadaan sendiri dan tak ada manusia lain yang melihatnya, ia melanggar larangan-larangan Alllah. (HR.Ibnu Majah)

Kesendirian, kesepian, kala tak ada orang yang melihat perbuatan salah, adalah ujaian yang akan membuktikan kualitas iman. Disinilah peran mengendalikan mata dan kecondongan hati termasuk dalam situasi kesendirian, karena ia menjadi bagian dari suasana yang tak diketahui oleh orang lain.